8 Mei 2016

  |  No comments  |  

Sentralisasi Parpol, Bencana Bagi Demokrasi Lokal


Kita masih ingat betul bagaimana era Orde Baru yang bersikap sentralistik, yang hanya melihat kondisi lokal dengan kacamata pemeritah pusat. Sentralisasi di era Orde Baru menghasilkan kebijakan yang kebanyakan tidak sesuai dengan aspirasi lokal sehingga kebijakan menjadi tidak tepat sasaran. Otoritas pemerintah pusat yang hampir mengatur segala urusan pemerintah daerah, menjadikan kesejahteraan masyarakat di daerah tidak merata. Bahkan waktu itu, pemimpin daerah harus sesuai dengan skenario pusat.

Ketika Reformasi datang, konsep desentralisasi akhirnya disuarakan dan kemudian dipertegas dalam UU Otonomi Daerah. Lahirnya UU Otoda mengubah konsep sentralistik menjadi desentralistik. Hal ini menghasilkan harapan yang lebih besar bagi percepatan pembangunan, regenerasi kepemimpinan dan pengembangan sumberdaya manusia di daerah. Konsep baru ini juga dengan cepat melahirkan elit politik lokal yang mampu bersaing dengan elit pusat, misalnya Fenomena Jokowi. Meskipun belum mencapai kondisi yang ideal, setidaknya desentralisasi yang saat ini diterapkan sedang “on the track” dalam mewujudkan kesejahateraan yang merata sesuai dengan aspirasi masyarakat lokal.
Memasuki era Reformasi, kran pendirian Partai Politik (parpol) dibuka selebar-lebarnya, sehingga di awal Reformasi begitu banyak parpol baru berdiri, meskipun tiga partai (Golkar, PPP dan PDI—Sekarang PDI Perjuangan) yang lahir sejak Orde Baru masih eksis hingga hari ini. Dan kompetisi antar parpol yang terlihat lebih seimbang di era Reformasi. Namun seleksi alam dengan seiring waktu berjalan, menyisakan sedikit partai yang bisa bertahan.

Sayangnya semangat desentralisasi di era Reformasi belum dianut oleh parpol-parpol, meskipun masih lebih baik dibanding era Orde Baru. Sistem parpol yang masih sentralistik akhirnya membuat DPP (Dewan Pimpinan/Pengurus Pusat) sebagai pimpinan tertinggi partai menjadi yang “paling didengar” atau bahkan “harus didengar dan dipatuhi.” Masalahnya, terkadang instruksi partai dikeluarkan tanpa melalui mekanisme musyawarah yang mendalam di internal parpol di tiap tingkatan. Seperti contoh dalam kasus penetapan rekomendasi parpol untuk kandidat dalam Pilkada atau pergantian Ketua Umum DPW (wilayah), pengurus DPD (daerah), atau Anggota DPRD yang bila tidak dipatuhi oleh pengurus di daerah dapat berujung pada pemecatan.

Jika menilik sejarah Parpol di Indonesia, pendirian Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Tjipto Mangunkoesoemo menjadi awal mula berdirinya parpol di Indonesia yang saat itu dijadikan wahana politik demi menghimpun kesadaran rakyat untuk mencapai tujuan nasional, yakni kemerdekaan Indonesia. Beberapa era telah berlalu, parpol berevolusi sesuai dengan zamannya, di era Reformasi, partai politik nampaknya sudah mulai melupakan tugasnya sebagai wahana membangun kesadaran rakyat untuk mencapai tujuan nasional. Saat ini, parpol lebih fokus dalam kompetisi politik untuk menjadi pemenang pemilu, pileg ataupun pilkada. Entah disadari apa tidak, sistem setralisasi yang masih dianut oleh parpol dapat memicu konflik terbuka di internal parpol, baik secara horizontal maupun vertikal. Padahal Parpol dilahirkan untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat.

Saat ini, besar keinginan para elit lokal agar parpol dapat menerapkan sistem desentralisasi. Sehingga penentuan kebijakan partai politik di tingkatan lokal diharapkan sesuai dengan aspirasi pengurus partai politik di daerah, yang lebih tahu banyak permasalahan lokal. Bukan malah sebaliknya, kebijakan di daerah sesuai dengan selera elit pusat tanpa memperhatikan aspirasi elit lokal. Bila dipaksakan, cara-cara otoriter yang dilakukan elit pusat akan menjadi bencana bagi demokrasi lokal yang mengharapkan parpol bergerak sesuai dengan geopolitik.

Akibatnya, beberapa konflik internal parpol muncul di Indonesia. Seperti dalam kasus Ketua Umum DPD Nasdem Palopo yang kecewa karena tiba-tiba diganti tanpa musyawarah. Seharusnya sesuai dengan kontitusi partai pada umumnya, pemilihan ketum parpol di tingkat lokal melalui musyawarah daerah dan pergantiannya bisa melalui musyawarah daerah luar biasa yang mekanismenya pun sudah ditentukan sedemikian rupa. Ataupun bisa dipecat jika melakukan kesalahan yang merusak nama baik partai, namun sangat mengecewakan tentunya jika pergantian dilakukan tanpa komunikasi yang baik terhadap Ketua Umum parpol di daerah, apa lagi tanpa sebab yang jelas.

Dan yang paling parah baru-baru ini, adalah kasus Musyawarah Wilayah Partai Amanat Nasional (PAN). Padahal acara ini dihadiri oleh Ketua Dewan Kehormatan Partai, Amin Rais dan Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan. Konsep baru yang ditawarkan oleh PAN patut diapresiasi yang mengganti pemilihan ketua umum secara langsung menjadi pemilihan formatur, yang kemudian formatur itu yang memilih ketua umum dan jajaran di bawahnya. Sistem model ini sudah terbukti menghasilkan sistem pemilihan berkualitas yang telah lebih awal diterapkan oleh PP Muhammadiyah. Sayangnya, pemilihan formatur dalam Muswil PAN Sulsel yang seharusnya dilakukan secara musyawarah untuk mufakat tiba-tiba diganti. Daftar Formatur langsung dibacakan nama-namanya yang akhirnya membuat muswil PAN tiba-tiba ricuh yang membuat Muswil berakhir deadlock.


Bukan saja di Sulsel, ada banyak kasus juga terjadi di daerah lain. Akhirnya nampak jelas bahwa elit pusat sangat otoriter dalam mengeluarkan keputusan dan mengacuhkan nilai-nilai demokrasi. Kejadian semacam ini tentunya telah merampas hak-hak politik elit lokal yang ingin memilih formatur sesuai dengan aspirasi mereka, bukan karena dekat dengan pengurus DPP. Tentunya, jika dibiarkan konflik-konflik di internal parpol membuat masyarakat mulai muak dan bisa jadi sepakat dengan wacana deparpolisasi yang hangat dibicarakan menjelang Pilkada di DKI Jakarta.

Palopo, 16 Maret 2016

6 Des 2015

  |  1 comment  |  

Munas Ikami Sulsel XVII 2015 digelar di Jakarta

Lambang Logo Ikami Sulsel
Musyawarah Nasional Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel) XVII Tahun 2015 akan digelar di Jakarta. Pembukaan Munas rencananya digelar di Istana Wakil Presiden RI pada tanggal 17 Desember 2015. Sementara rangkaian agenda Munas selanjutnya akan digelar di Graha Insan Cita, Kota Depok.

Agenda dalam Munas Ikami Sulsel adalah Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Besar, pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, pembahasan GBHK dan rekomendasi, dan pemilihan formatur/ketua umum dan mideformatur.

Besar harapan seluruh cabang Ikami Sulsel agar Munas kali ini berlangsung dengan baik. Diharapkan pula para peserta Munas dapat menyatukan gagasan untuk direkomendasikan sebagai rambu-rambu kerja Pengurus Besar Ikami Sulsel ke depan. Selain itu diharapkan pula cabang-cabang secara bijak memilih ketua umum yang mampu menjaga amanah dan mampu membumikan gagasan cabang-cabang Ikami Sulsel se-Indonesia.

Ikami Sulsel telah berdiri sejak 54 tahun yang lalu. Tepatnya 30 September 1961 di Ciloto, Jawa Barat. Ikami Sulsel telah banyak melahirkan kader yang mampu mewarnai perjalanan Bangsa Indonesia. Maka sudah sepatutnya dalam momen Munas kali ini seluruh kader harus bijak dalam meluruskan arah pembangunan Ikami Sulsel.

Rahmat Al Kafi

1 Agt 2015

,   |  3 comments  |  

Gagasan dan Pragmatisme di Ikami Sulsel

Orang bilang, zaman telah berubah, gagasan tidak lagi dibutuhkan. Sekarang orang butuh uang untuk hidup. Sekarang, Anda ngomong ini dan itu, kalau tidak punya uang, orang tidak bakal mendengar. Penyakit macam begini sudah menjalar di hampir kebanyakan pikiran orang Indonesia. Nampaknya, kalau dinilai kasar, orang Indonesia sudah tidak butuh lagi ide-ide dan gagasan-gagasan baru. Yang dibutuhkan hanya uang, uang, dan uang.

Penyakit macam begini dapat kita sebut sebagai: “Penyakit Zaman.” Sebuah penyakit yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Coba lihat, beberapa kalangan PNS yang malas namun tiba-tiba rajin ketika ada proyek-proyek yang menguntungkan. Kemudian proyek-proyek itu harus disogok oleh para kontraktor agar mereka dapat menjadi pemenang tender.

Karena penyakit zaman ini, coba lihat bagaimana dunia politik kita yang serba transaksional. Untuk bisa menjadi tokoh, atau istilah bekennya “orang kuat” dalam partai politik. Maka si orang kuat ini haruslah kuat secara ekonomi. Hal inilah yang katanya dapat menggerakkan partai dan gerakannya. Jadi, untuk bisa menjadi ketua umum partai, di tingkatan manapun, butuh dana yang besar. Uang memang akhirnya menjadi penguasa. Maka benar sentilan yang muncul dari kalangan masyarakat awam, “uang akan menghasilkan kekuasaan, dan kekuasaan akan menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.

Lalu di mana orang-orang yang punya gagasan dan ide-ide segar? Mereka ada di perusahaan-perusahaan swasta multinasional, dan menjadi PNS yang juga akhirnya terkena dampak penyakit zaman. Ada juga orang-orang yang punya gagasan ini bergabung dengan partai-partai politik, namun mereka harus siap-siap dibuang jika ide mereka merubah secara radikal kebiasaan lama partai, yang akan merugikan banyak pihak, meskipun gagasan itu sangat baik untuk kelanjutan partai.

Kemudian, bagaimana dengan pemuda dan pemudi, atau bisa kita sebut, kalangan kita? Hampir sama parahnya dengan masyarakat secara umum. Kalangan kita, karena tidak kuatnya menahan penyakit zaman, akhirnya menjadi kalangan yang tertular juga. Lihatlah ketika perebutan kekuasaan di organisasi-organisasi kepemudaan, para pemilik suara lebih cenderung memilih calon yang punya dana besar, untungnya masih ada kamuflase gagasan dalam buku atau selebaran visi-misi meskipun lebih banyak mendarat di tempat sampah daripada dibawa pulang ke rumah untuk sekadar dibaca.

Mari kita lihat juga organisasi kita, Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel). Kita tidak bisa berbohong bahwa kita sudah mulai juga tertular oleh penyakit zaman yang begitu kuatnya. Menjelang pergantian kepemimpinan Ikami Sulsel di tahun ini, kalangan kita akan diuji, apakah kita adalah orang-orang yang masih objektif menilai siapa orang-orang yang pantas untuk kita mandatkan memimpin organisasi ini? Apakah untuk mereka yang punya gagasan atau mereka yang pragmatis—yang hanya ingin menjadikan Ikami Sulsel sebagai alat lompatan politik dan pemanfaatan ekonomi bagi kepentingan pribadi?

Ratusan tahun yang lalu, Orang Viking kuno, yang tinggal di kawasan Skandinavia yang masih berselimut es malah lebih bijak dalam mendoktrin zamannya. Kata mereka, “Gagasan lebih berharga dari emas dan perak.” Mengapa gagasan lebih berharga? Karena gagasan-gagasan inilah yang telah membangun peradaban dunia. Revolusi industri lahir karena gagasan. Teknologi maju karena gagasan. Iran maju karena gagasan Bapak Revolusi mereka, Ayatullah Qumaeni yang kemudian dilanjutkan oleh Ahmadinejad. Turki maju dan berubah karena gagasan-gagasan baru Erdogan, yang meruntuhkan doktrin lama Mustafa Kemal Attaturk, yang menyesatkan Turki selama ini. Lihat pulalah kemajuan China yang telah membuat ketar-ketir raksasa ekonomi dunia lainnya, Amerika Serikat.

Dari perubahan-perubahan besar dunia karena gagasan, apakah kita sebagai kader Ikami Sulsel tidak menyadari ini? Apakah kita masih tidak mau belajar sejarah yang sudah memastikan bahwa gagasan itu lebih berharga dari uang, pundi-pundi emas dan perak? Apakah kita tidak butuh penataan pengkaderan yang lebih baik untuk regenerasi di Ikami Sulsel? Apakah kita tidak butuh program-program kemandirian organisasi? Apakah kita tidak butuh program-program kreativitas? Apakah kita tidak butuh program-program inovatif yang akan membuat organisasi kita lebih seksi dari sebelumnya?

Tapi, gagasan saja tidak cukup. Butuh langkah-langkah progresif untuk merealisasikannya. Kita butuh SDM yang mumpuni dan serius untuk membumikan gagasan-gagasan itu. Selain itu dibutuhkan kesabaran untuk dapat memperoleh buah dari gagasan-gagasan itu. Karena Tuhan selalu bersama dengan orang-orang yang sabar. Bukankah Allah SWT telah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar, Ayat 10). Semoga kita menjadi orang-orang yang sabar. Karena kita selalu berharap, semoga di hari depan, dari rahim organisasi kita lahir orang-orang hebat. Sebuah pepatah berbunyi, “orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, atau kenyamanan. Tapi mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata.

Yang pasti, salah satu bapak pendiri bangsa Indonesia, Tan Malaka selalu mengingatkan kalangan kita bahwa, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda.” Tapi entahlah, kita harus mengembalikan ke sanubari kita masing-masing, bagaimana kita menyikapi momen besar kita di tengah perubahan-perubahan dunia yang begitu cepatnya.

Rahmat Al Kafi
Anggota Ikami Sulsel Cabang Malang



30 Jul 2015

, , , , ,   |  No comments  |  

PSBM dan Komitmen Melahirkan Pengusaha Muda


Masyarakat Sulawesi Selatan boleh berbangga karena memiliki banyak pengusaha. Mungkin karena orang Sulsel punya semangat berjuang yang amat tinggi. Kata HM Jusuf Kalla (JK), “Kalau mau keras, kita kalah sama orang Batak, kalau mau bicara, kita kalah sama orang Padang, kalau mau lemah lembut, kita kalah sama orang Jawa, kalau mau bersilat lidah, kita kalah sama orang Madura. Satu hal yang diunggulkan, yang dimiliki oleh orang Bugis Makassar, yakni semangat.” Hal inilah yang melatarbelakangi banyaknya orang Sulsel yang menjadi pengusaha besar.

Yang patut lebih dibanggakan lagi adalah para pengusaha ini memiliki kegiatan rutin sebagai media berinteraksi dan ber-tudangsipulung. Kegiatan itu hampir dilangsungkan setiap tahun, namanya, Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM). Ketika mengenang PSBM yang digagas oleh Bapak HM Jusuf Kalla (JK) pada Tahun 1994, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kadinda Sulawesi Selatan. PSBM diharapkan menjadi motor bangkitnya perekonomian di Sulawesi Selatan dan Kawasan Timur Indonesia.

Pernah JK mengatakan pada PSBM XII Tahun 2010, Ini adalah ajang untuk bertukar pandangan, pengalaman, melihat peluang, membangun kebersamaan dan mengajak pemuda melihat pengusaha sebagai cita-cita dan tujuan hidup. Melalui pertemuan ini kita ingin menimbulkan spirit dunia usaha dalam diri masyarakat itu sendiri karena dunia usaha tidak ada sekolahnya.

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar yang ke 15 kembali digelar di Makassar. Acara ini berlangsung pada 26-28 Juli 2015 di Takalar dan Makassar. Kegiatan ini akan dihadiri ribuan saudagar Bugis Makassar dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara. PSBM kali ini mengangkat tema, “Peran Saudagar Bugis Makassar dalam Mengakselerasi Pembangunan Sulawesi Selatan Menyongsong ASEAN Economic Community 2015.”

Gengsi PSBM sebagai forum para pengusaha Sulsel tidak lepas dari anggapan negatif beberapa kalangan. Selama ini, PSBM dianggap hanya sebagai acara pamer prestasi para pengusaha. Belum ada langkah-langkah kongkrit yang ditelurkan oleh PSBM selama ini. Bisa dikatakan agak jauh dari cita-cita awalnya, yang dimana PSBM diharapkan menjadi lokomotif dalam memajukan perekonomian Sulsel, Indonesia Timur dan Indonesia. Dari tahun ke tahun PSBM hanya menghasilkan rekomendasi-rekomendasi.

Bila benar-benar ingin serius seperti cita-citanya, PSBM haruslah menghasilkan program-program strategis yang dapat memberi dampak langsung kepada perkembangan perekonomian masyarakat. Misalnya, mencetak dan membina pengusaha-pengusaha muda Sulsel. Selain itu, PSBM dapat menghasilkan kesepakatan untuk membuat Bank Perkreditan untuk menyalurkan modal usaha berbunga rendah untuk masyarakat yang ingin memulai dan melanjutkan usahanya. Sebagai opsi terakhir, PSBM harus memiliki peran dalam dunia Pendidikan. Setidaknya para pengusaha dapat mengumpulkan dana untuk memberikan beasiswa kepada anak muda Sulsel yang berprestasi.

Untuk memudahkan pelaksanaan program-program strategisnya Forum PSBM dapat menunjuk Badan Pekerja. Badan ini dapat diisi oleh kombinasi orang tua dan anak muda. Yang tua diwakili oleh Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dan yang muda diwakili oleh Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel). Badan Pekerja ini yang akan merealisasikan program-program strategis yang disepakati di PSBM. Dengan begini, setidaknya ada usaha untuk membumikan cita-cita mulia PSBM.

Menjadi penting untuk melahirkan dan membimbing pengusaha muda karena pengusaha baru amat penting untuk membangun kekuatan ekonomi dalam menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN. Menurut Deputi Kementerian Koperasi dan UKM Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Agus Muharram, untuk membentuk ekonomi sebuah negara berkembang menjadi maju dibutuhkan jumlah pengusaha sukses minimal 2% dari total jumlah penduduk.  Saat ini, jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,26 persen pada tahun 2013. Bila PSBM serius mewujudkan cita-citanya maka PSBM dapat menjadi pelopor untuk menambah pengusaha-pengusah baru di Indonesia.

Membimbing pengusaha tidak hanya melalui pelatihan namun suntikan modal usaha adalah cara yang paling tepat. Karena sebenarnya, ide-ide bisnis sangat banyak berkeliaran di kepala anak-anak muda. Namun mereka tidak memiliki modal cukup untuk membangun dan membesarkan usahanya. Akhirnya mereka memilih menjadi karyawan swasta atau menjadi PNS. Wacana Bank Perkreditan sudah pernah diutarakan oleh Ketua Umum KKSS Bali, Zainal Tayeb, namun belum direspon positif oleh stakeholder PSBM hingga hari ini. Melahirkan Bank Perkreditan dapat menjadi solusi. Kita dapat belajar dari Pendiri Grameen Bank (Bangladesh), Prof. Muhammad Yunus. Ia berhasil mencetak pengusaha-pengusaha baru di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank, sebuah Bank Perkreditan yang berbunga rendah. Bahkan angka pengembalian kreditnya mencapai 97% melebihi bank-bank konvensional.

Selanjutnya mari kita lihat, bagaimana PSBM merespon kegelisahan beberapa kalangan yang mulai memandang negatif PSBM. Di sini juga akan kita lihat, bagaimana peran KKSS dan IKAMI Sulsel dalam mendukung PSBM merealisasikan program strategisnya.

RAHMAT AL KAFI
Kandidat Ketua Umum Pengurus Besar IKAMI Sulsel.

**
Tulisan ini dimuat juga di Koran Harian Fajar, Makassar. Edisi 28 Juli 2015 dengan Judul: PSBM dan Komitmen Melahirkan Pengusaha Muda.

18 Apr 2015

No comments  |  

Membedah Tujuan IKAMI Sulsel

Malam Sabtu tanggal 17 Mei 2015, di Asrama Hasanuddin, saya menghadiri penggodokan Konsep Pra-Munas yang dilakukan Pengurus bersama anggota IKAMI Sulsel Cabang Malang. Pembahasan dimulai dengan penggodokan Anggaran Dasar. Teman-teman sempat lama membahasa pasal Asas. Redaksional AZAS dirubah menjadi ASAS sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Selain itu muncul tawaran asas-asas baru seperti kekeluargaan. Namun, tetap disepakati Asas Pancasila.

Setelah itu dilanjutkan, lalu tertahan lagi dalam pembahasan pasal Tujuan. Tujuan IKAMI perlu diubah. Beberapa orang menyampaikan gagasannya mengenai tujuan IKAMI Sulsel. Saya mengawali dengan menawarkan bahwa Tujuan IKAMI Sulsel haruslah menciptakan pemimpin. Kemudian Tomy Rahmatwijaya mengusulkan tujuan IKAMI Sulsel menjadi: Membina pemimpin untuk Indonesia dan Sulsel. Kemudian M. Munawwir menambahkan ada kata kesejahteraan Indonesia.  Syam'un mengusulkan Terciptanya pemimpin paripurna menuju masyarakat madani. Kemudian Fian mengatakan bahwa awalannya harus kalimat pasif. Jadi bukan membina, tapi terbina, namun menurut Fian harus ditemukan diksi baru yang paling baik dan dekan dengan pengkaderan di IKAMI Sulsel. Lalu muncul kata Didik, jadi diksi yang cukup tepat adalah terdidiknya.Saya kemudian menawarkan Terdidiknya Pemimpin Paripurna demi Terwujudnya Masayarakat Madani (Peradaban Paripurna). Lalu Fitri Firlia menawarkan Pemimpin Berkarakter. Kemudian berbagai ide dari teman-teman forum, sehingga menjadi alot. Kemudia Syarfina Juhaidah menengahi forum untuk mengkaji kembali, apa sebenarnya bentuk organisasi IKAMI Sulsel. Apakah dia organisasi kader atau organisasi kebudayaan atau yang lain? Saya lalu menyampaikan bahwa IKAMI Sulsel dapat berbentuk apapun. Artinya, IKAMI Sulsel dapat menjadi organisasi pengkaderan, organisasi kebudayaan, organisasi kekaryaan ataupun bentuk-bentuk lainnya. Meskipun IKAMI Sulsel adalah organisasi daerah yang keanggotaannya terbatas pada mahasiswa/pelajar asala atau keturunan Sulawesi Selatan akan tetapi, setelah masuk ke dalam organisasi semua kader dapat dipupuk menjadi pemimpin yang berjiwa humanis tidak sekedar etnosentris. Pempimpin yang dapat menunjang kemajuan bangsa dan dunia.

Saya sepakat IKAMI Sulsel menjadi wadah mendidik Pemimpin. Pemimpin yang diinginkan adalah pemimpin yang memiliki atribusi seperti tujuan IKAMI Sulsel saat ini. Terdidiknya pemimpin paripurna adalah tujuan yang tepat untuk mempertegas IKAMI Sulsel sebagai organisasi daerah yang ikut mewujudkan masyarakat madani. Dalam definisi saya, pemimpin paripurna adalah memiliki karakter-karakter seperti tujuan IKAMI Sulsel saat ini dan nilai-nilai karakter kebangasaan, jadi pemipin paripurna yang diinginkan adalah pemimpin yang:
- Memiliki jiwa intelektual
- Mengabdi pada masyarakat.
- Melestarikan budaya dan Nilai-nilai Luhur Sulawesi Selatan.
- Menjaga Semangat Kekeluargaan.
- Memiliki nilai-nilai karakter kebangsaan, antara lain:
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, akhirnya forum tidak menyepakati salah satu usulan. Karena waktu semakin larut, akhirnya forum dipending.
  |  No comments  |  

Pasangan Mengagumkan, Rahim bin Lasupu dan Raudatul Jannah Musa

Sahabat? Beda-beda cara orang mendefinisikan sahabat. Namun bagi saya, sahabat adalah orang yang berani berbagi cerita. Sahabat adalah orang yang tidak ragu untuk tertawa bersama kita untuk hal-hal yang lucu, dan berani memarahi kita ketika kita keliru menjalani kehidupan.

Cerita bersama Rahim
Saya dan Rahim lebih dikenal sebagai lawan diskusi, kadang-kadang bahkan berujung debat. Tapi saya menganggap Rahim adalah teman berfikir. Karena kata Anies Baswedan, “Lawan debat adalah teman berfikir.” Mungkin wajar kami selalu berdebat. Maklum, Rahim lebih banyak belajar tentang hukum, sementara saya lebih banyak belajar soal politik. Tidak ada yang salah sebenarnya, namun diskusi yang berujung debat akan selalu menghasilkan pelajaran yang banyak. Bahkan lebih baik jika Rahim seperti itu. Saya berharap dia menjadi penegak hukum yang lurus, agar tidak mudah ditawar-tawar.

Saya mengenal dia pertama kali tahun 2009, ketika dia datang ke Sekretariat DIMPA membawa teman Pencinta Alam dari Makassar, namanya Andiz. Andiz adalah teman dekat dengan Anak IKAMI Malang, Helda Wulandari. Mereka ramai-ramai waktu itu, kalau tidak salah, ada Akmal, Adam, Hamka, dan Helda. Setelah itu, Tahun 2010 baru saya bertemu lagi.

Ketika saya diajak Rudi menjadi Ketua Bidang Organisasi dan Kelembagaan (OKA) IKAMI Sulsel Cabang Malang. Saya banyak berinteraksi dengannya, karena dia juga salah satu fungsionaris IKAMI Malang, waktu itu. Kami banyak berinteraksi di Al-Kautsar 58. (Sekretariat kedua IKAMI Malang waktu itu.). Kami semakin akrab ketika dia mendukung saya menjadi Ketua IKAMI Sulsel Cabang Malang di periode berikutnya. Di antara anak IKAMI Malang waktu itu, saya lebih banyak sepaham dengan dia, maklum dia orang yang disiplin. Saya melihat kedisiplinan di IKAMI Malang waktu itu kurang baik. Akhirnya setelah terpilih, saya mengajak dia menjadi Sekretaris Umum. Alhamdulillah dia bersedia meskipun lewat loby yang panjang.

Kami menjalani pengurusan (Periode Kemesraan) dengan baik dan semangat yang membara. Saya sungguh senang, karena hal paling strategis dalam organisasi adalah administrasi. Rahim adalah seorang yang tertib administrasi. Itu sangat membantu. Baru sebulan jadi Pengurus, dia sudah memajang daftar proker dan time schedule-nya serta struktur Pengurus di dinding sekretariat. Ini mempermudah fungsionaris melihat program-program mereka. Dan tentunya merealisasikannya. Hal unik dari Rahim adalah, dia tidak merokok. Padahal hampir seluruh fungsionaris laki-laki waktu itu adalah perokok. Namun dia menawarkan peraturan dilarang merokok dalam sekretariat dan juga ketika rapat, kemudian disepakati oleh seluruh fungsionaris. Maka steril-lah Sekretariat dan rapat dari asap rokok.

Rahim adalah partner yang baik ketika kami mengadakan Sanggara untuk pertama kalinya. Sayangnya, saya tidak bisa bersama dia mengakhiri kepengurusan. Dia terpilih menjadi Ketua (Gubernur) BEM Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. Maka demi efektifitas berorganisasi dia mengundurkan diri dari sekretaris, kemudian ia digantikan oleh seorang yang tidak kalah hebatnya dengan Rahim, dialah Asdar Auriga. Seorang yang sampai sakit karena menyiapkan surat-surat hingga tidak sadar tertidur di lantai, itulah Riga. Hingga saat ini Rahim selalu menjadi teman berfikir. Dia juga teman sekamar yang baik di Asrama Grha IKAMI Center Lt. 3, Jl. Talang 39, Menteng Jakarta Pusat. Dia juga yang menyelamatkan saya dari masa-masa survive ketika awal-awal di Jakarta.

Cerita bersama Oda
Membayangkan Raudatul Jannah (Oda) seperti membayangkan seorang kakak perempuan yang dapat mengayomi adik-adik perempuan IKAMI Sulsel. Seorang yang pemalu, tidak banyak bicara, dan lebih banyak bertindak. Seorang sangat senang dengan bakso. “Hati-hati Oda bakso bisa membuat lemak-lemakmu bergairah.” Dia adalah Ketua Bidang Urusan Peranan Perempuan (UPP) di Periode Kemesraan, ketika saya menjadi Ketua Umum IKAMI Malang. Seingat saya, dari seluruh Bidang yang ada hanya UPP yang merealisasikan seluruh programnya.

Oda adalah seorang yang sangat ulet mengemban tanggung jawab. Entah mengapa saya begitu senang melihat perempuan aktif berorganisasi. Itu adalah sebuah hal yang luar biasa apalagi di tengah kaum laki-laki yang cukup banyak. Apalagi hari ini IKAMI Malang dipimpin perempuan, Syarfina Juhaidah. Saya selalu merasa kagum dengan perempuan-perempuan yang aktif berorganisasi. Karena lebih sulit menggembleng kemampuan berorganisasi seorang perempuan yang lebih mengutamakan emosionalnya daripada lelaki yang mengutamakan rasionalitasnya. Maka tidak ada alasan untuk tidak kagum pada perempuan yang aktif berorganisasi seperti Oda.

Pasangan Raudatul Jannah dan Rahim bin Lasupu adalah pasangan yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Pasangan yang sama-sama alumni Pesantren Rahmatul Asri. Dua sejoli yang sangat alim. Pasangan pejuang yang berani mengarungi kerasnya Jakarta. Menjadi pasangan yang selalu mesra dengan batasan-batasan etis yang baik. Saya sungguh senang ketika memotret kalian berdua saat Oda pertama kali berangkat kerja sebagai HRD di Perusahaan daerah Kemang. Menaiki Motor tua yang berani melewati hadangan kemacetan di Jakarta. Pasangan yang begitu toleran. Saya banyak belajar dari kalian tentang bagaimana menjadi pasangan yang saling memahami.

Rahim dan Oda ketika Penggalangan Dana IKAMI Sulsel Cabang Malang untuk Korban Puting Beliung di Sidrap 2012
Tak disangka dan tak diduga, kabar gembira datang. 18 Mei 2015 Pasangan yang saya kagumi ini akan segera menikah. Sebuah kesyukuran karena kalian lebih duluan memenuhi sunnah rasul. Semoga menjadi pasangan yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Dan, dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Bila kalian diberi satu putra berilah nama Muhammad. Bila dua, berilah nama Ahmad. Dan, bila tiga, berilah nama Rahmat. Dan tidak harus Rahmat Al Kafi. Hehe….

16 Apr 2015

  |  No comments  |  

IKAMI Sulsel dan Agenda yang Mendesak

Sebagai organisasi kepemudaan yang mengakomodir semangat kedaerahan, IKAMI Sulsel berdiri dengan aturan positifistiknya, yang penuh dengan relasi-relasi formal dalam aktifitas keorganisasiannya. Namun, terkait dengan kultur organisasi, IKAMI Sulsel hadir membawa kultur yang cenderung bersifat organik. Sebagian besar aktivitas yang hadir dalam organisasi tidak terlalu menuntut adanya formalitas, tapi bukan berarti menafikan formalisasi. Area formal, lazimnya berada pada pelaksanaan kegiatan wajib organisasi. Berbeda dengan kultur mekanik yang menuntut adanya formalisasi secara totalitas dalam setiap aktivitas keorganisasian. Karena, bagi kultur tersebut, tujuan dapat dicapai dengan melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Tentunya, antara kultur organisasi yang bersifat organik dan mekanik, tidak dapat diklaim secara sepihak kultur mana yang lebih baik, sebelum melihat ranah kerjanya.

Organisasi yang menerapkan kultur mekanik mengarah pada orientasi proses, di mana setiap sistem kerja harus dijalankan sebagaimana yang telah ditetapkan. Kultur bersebut lahir menjadi karakteristik kuat pada birokrasi pemerintahan, setiap rangkaian kerjanya menuntut adanya formalisasi. Berbeda dengan organisasi dengan kultur organik, mengutamakan pencapaian tujuan. Orientasi tujuan yang menjadi ciri khas dari kultur yang bersifat organik, mengharuskan organisasi mengeliminasi atau mengubah setiap cara kerja yang dianggap menghambat dalam pencapaian tujuan.

Kondisi organisasi kepemudaan, terkhusus IKAMI Sulsel, menghadapi tantangan perubahan politik nasional yang sangat dinamis serta tuntutan pembangunan bangsa yang menitikberatkan peran pemuda. Kondisi tersebut menuntut adanya suatu sistem yang cukup fleksibel, sebab sebuah organisasi yang sangat kaku akan membatasi ruang gerak dalam langkah-langkah taktis pencapaian tujuan. Sebaliknya, jika organisasi cenderung fleksibel tentu akan memberi keluasan dalam menemukan solusi yang strategis bagi organisasi. Sadar maupun tidak, kultur yang terbangun dalam tubuh IKAMI Sulsel cenderung pada kultur organik. Jika organisasi ini menuntut adanya relasi-relasi formal dalam setiap proses kerja organisasi, bisa dipastikan akan membuat organisasi tidak bisa berkembang sejauh ini.

Kultur organik bukan sebuah kultur organisasi yang maujud sebagai konsep ideal tanpa kelemahan-kelemahan substantif. Efek samping yang cenderung negatif dari kultur organik pada kehidupan IKAMI Sulsel yaitu integritas keseluruhan kader menjadi lemah, akibatnya koordinasi kerja tidak berjalan secara optimal. Terlihat pada kebingungan kita dalam menentukan cabang IKAMI Sulsel mana yang aktif menyajikan kebudayaan Sulsel di daerah belajarnya. Sehingga berujung pada public mood yang rendah di lingkup kader IKAMI Sulsel secara keseluruhan, dan tentu hanya sedikit orang yang mau meluangkan waktunya untuk memikirkan kemajuan IKAMI Sulsel. Hal tersebut cukup mengkhawatirkan, terlebih lagi kader yang menjadi katalisator dalam organisasi akan merasa tidak perlu untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam organisasi, karena lemahnya relasi formal yang mengikat. Hanya kesadaran yang betul-betul menggerakkan kader untuk menuntaskan kewajiban-kewajiban kerja organisasi.

Sekarang, agenda mendesak para kader adalah menciptakan public mood dalam proses kerja organisasi. Menerapkan system reward and punishment untuk mengendalikan semangat berorganisasi. Tentu IKAMI Sulsel tidak bisa memberi reward secara material dalam menjaga semangat kader, sebab organisasi ini bukanlah organisasi yang berorientasi profit. Selain itu, dilematisnya adalah, organisasi ini juga tidak bisa memberi punishment secara berlebihan ketika kader tidak melaksanakan kewajibannya, sebab punishment terlalu berlebihan hanya merusak relasi-relasi kerja antara kader, atau bahkan menciptakan konflik dalam organisasi. Tentu keputusan bijak yaitu memilih gagal dalam hubungan profesional organisasi dibanding merusak hubungan personal kekeluargaan antar kader. Sebab, tujuan organisasi ini didirikan salah satunya adalah memupuk semangat kekeluargaan.

Langkah strategis yang dapat ditempuh yaitu menyikapi kader yang tidak mampu bekerjasama dengan baik dalam ranah tertentu, dengan cara memindahkannya pada ranah yang menjadi keahliannya. Selain itu, organisasi harus memberikan reward, dalam bentuk apresiasi atau bentuk lainnya yang lebih kreatif, kepada kader yang mampu menyelenggarakan kegiatan atau yang memperlihatkan progres yang baik. IKAMI Sulsel merupakan wadah yang membawa simbol-simbol tradisi Sulsel di daerah belajar para kader, seyogyanya mampu mewujudkan harapan-harapan kader untuk merasakan atmosfer kesulawesiselatanan saat jauh dari kampung halamannya. Ketika kegiatan tersebut dapat terlaksana secara rutin, muaranya pada integritas kader dalam menciptakan public mood dan sekaligus menguatkan karakter kesulawesiselatanan. Semua maksud yang ingin dicapai dapat dibungkus dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa tradisional kesulawesiselatanan, kegiatan tersebut menjadi alat pemersatu kader.

Mengoptimalkan ikhtiar pencapaian tujuan organisasi merupakan kewajiban kita bersama, maka semua niat baik mestilah diterjemahkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang probable untuk dilaksanakan. Kegiatan yang sekecil apa pun tentu menghasilkan dampak yang signifikan jika dikerjakan secara partisipatif. Mungkin jika kegiatan tradisional Sulsel yang dilakukan di Sulsel sendiri, akan menjadi capaian yang bisa-biasa saja, namun ketika kegiatan tradisional Sulsel mampu kita booming-kan di daerah belajar para kader (luar Sulsel), tentu itu akan menjadi capaian yang luar biasa.

RAHMAT AL KAFI
Email: rahmatalkafi@gmail.com


9 Apr 2015

,   |  No comments  |  

Cinta

Cinta, dia yang membuat kita antusias menunggu kabarnya ketika jauh
Cinta, dia yang selalu mendukung impian-impian kita meski berbeda dengan impiannya
Cinta, dia yang berani memarahi kita ketika kita salah dan keliru
Cinta, dia yang membuat kita marah dan sakit hati ketika jauh darinya
Cinta, dia yang membuat kita kadang sedih dalam rindu
Cinta, dia yang membuat kita bebas berbicara tanpa batas
Cinta, dia yang cemburu ketika kita dekat dengan yang lain
Cinta, dia yang membuat kita bahagia dan nyaman di dekatnya
Cinta, dia yang sabar membimbing kita, sabar dengan ocehan kita
Cinta, dia yang bersyukur memiliki kita
Cinta, dia yang datang bukan karena paras, harta, dia datang karena hati
Beberapa syarat cinta dimiliki oleh orang lain, tapi cinta sejati hampir memiliki semuanya
Cinta bisa diciptakan, tapi tidak selalu bisa hadir.

Jakarta, 7 Januari 2015