16 Apr 2015

  |  No comments  |  

IKAMI Sulsel dan Agenda yang Mendesak

Sebagai organisasi kepemudaan yang mengakomodir semangat kedaerahan, IKAMI Sulsel berdiri dengan aturan positifistiknya, yang penuh dengan relasi-relasi formal dalam aktifitas keorganisasiannya. Namun, terkait dengan kultur organisasi, IKAMI Sulsel hadir membawa kultur yang cenderung bersifat organik. Sebagian besar aktivitas yang hadir dalam organisasi tidak terlalu menuntut adanya formalitas, tapi bukan berarti menafikan formalisasi. Area formal, lazimnya berada pada pelaksanaan kegiatan wajib organisasi. Berbeda dengan kultur mekanik yang menuntut adanya formalisasi secara totalitas dalam setiap aktivitas keorganisasian. Karena, bagi kultur tersebut, tujuan dapat dicapai dengan melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Tentunya, antara kultur organisasi yang bersifat organik dan mekanik, tidak dapat diklaim secara sepihak kultur mana yang lebih baik, sebelum melihat ranah kerjanya.

Organisasi yang menerapkan kultur mekanik mengarah pada orientasi proses, di mana setiap sistem kerja harus dijalankan sebagaimana yang telah ditetapkan. Kultur bersebut lahir menjadi karakteristik kuat pada birokrasi pemerintahan, setiap rangkaian kerjanya menuntut adanya formalisasi. Berbeda dengan organisasi dengan kultur organik, mengutamakan pencapaian tujuan. Orientasi tujuan yang menjadi ciri khas dari kultur yang bersifat organik, mengharuskan organisasi mengeliminasi atau mengubah setiap cara kerja yang dianggap menghambat dalam pencapaian tujuan.

Kondisi organisasi kepemudaan, terkhusus IKAMI Sulsel, menghadapi tantangan perubahan politik nasional yang sangat dinamis serta tuntutan pembangunan bangsa yang menitikberatkan peran pemuda. Kondisi tersebut menuntut adanya suatu sistem yang cukup fleksibel, sebab sebuah organisasi yang sangat kaku akan membatasi ruang gerak dalam langkah-langkah taktis pencapaian tujuan. Sebaliknya, jika organisasi cenderung fleksibel tentu akan memberi keluasan dalam menemukan solusi yang strategis bagi organisasi. Sadar maupun tidak, kultur yang terbangun dalam tubuh IKAMI Sulsel cenderung pada kultur organik. Jika organisasi ini menuntut adanya relasi-relasi formal dalam setiap proses kerja organisasi, bisa dipastikan akan membuat organisasi tidak bisa berkembang sejauh ini.

Kultur organik bukan sebuah kultur organisasi yang maujud sebagai konsep ideal tanpa kelemahan-kelemahan substantif. Efek samping yang cenderung negatif dari kultur organik pada kehidupan IKAMI Sulsel yaitu integritas keseluruhan kader menjadi lemah, akibatnya koordinasi kerja tidak berjalan secara optimal. Terlihat pada kebingungan kita dalam menentukan cabang IKAMI Sulsel mana yang aktif menyajikan kebudayaan Sulsel di daerah belajarnya. Sehingga berujung pada public mood yang rendah di lingkup kader IKAMI Sulsel secara keseluruhan, dan tentu hanya sedikit orang yang mau meluangkan waktunya untuk memikirkan kemajuan IKAMI Sulsel. Hal tersebut cukup mengkhawatirkan, terlebih lagi kader yang menjadi katalisator dalam organisasi akan merasa tidak perlu untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam organisasi, karena lemahnya relasi formal yang mengikat. Hanya kesadaran yang betul-betul menggerakkan kader untuk menuntaskan kewajiban-kewajiban kerja organisasi.

Sekarang, agenda mendesak para kader adalah menciptakan public mood dalam proses kerja organisasi. Menerapkan system reward and punishment untuk mengendalikan semangat berorganisasi. Tentu IKAMI Sulsel tidak bisa memberi reward secara material dalam menjaga semangat kader, sebab organisasi ini bukanlah organisasi yang berorientasi profit. Selain itu, dilematisnya adalah, organisasi ini juga tidak bisa memberi punishment secara berlebihan ketika kader tidak melaksanakan kewajibannya, sebab punishment terlalu berlebihan hanya merusak relasi-relasi kerja antara kader, atau bahkan menciptakan konflik dalam organisasi. Tentu keputusan bijak yaitu memilih gagal dalam hubungan profesional organisasi dibanding merusak hubungan personal kekeluargaan antar kader. Sebab, tujuan organisasi ini didirikan salah satunya adalah memupuk semangat kekeluargaan.

Langkah strategis yang dapat ditempuh yaitu menyikapi kader yang tidak mampu bekerjasama dengan baik dalam ranah tertentu, dengan cara memindahkannya pada ranah yang menjadi keahliannya. Selain itu, organisasi harus memberikan reward, dalam bentuk apresiasi atau bentuk lainnya yang lebih kreatif, kepada kader yang mampu menyelenggarakan kegiatan atau yang memperlihatkan progres yang baik. IKAMI Sulsel merupakan wadah yang membawa simbol-simbol tradisi Sulsel di daerah belajar para kader, seyogyanya mampu mewujudkan harapan-harapan kader untuk merasakan atmosfer kesulawesiselatanan saat jauh dari kampung halamannya. Ketika kegiatan tersebut dapat terlaksana secara rutin, muaranya pada integritas kader dalam menciptakan public mood dan sekaligus menguatkan karakter kesulawesiselatanan. Semua maksud yang ingin dicapai dapat dibungkus dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa tradisional kesulawesiselatanan, kegiatan tersebut menjadi alat pemersatu kader.

Mengoptimalkan ikhtiar pencapaian tujuan organisasi merupakan kewajiban kita bersama, maka semua niat baik mestilah diterjemahkan dalam bentuk tindakan-tindakan yang probable untuk dilaksanakan. Kegiatan yang sekecil apa pun tentu menghasilkan dampak yang signifikan jika dikerjakan secara partisipatif. Mungkin jika kegiatan tradisional Sulsel yang dilakukan di Sulsel sendiri, akan menjadi capaian yang bisa-biasa saja, namun ketika kegiatan tradisional Sulsel mampu kita booming-kan di daerah belajar para kader (luar Sulsel), tentu itu akan menjadi capaian yang luar biasa.

RAHMAT AL KAFI
Email: rahmatalkafi@gmail.com


0 komentar:

Posting Komentar